Menjelang maghrib di pertigaan traffic light cawang, saya melihat seorang ibu memegang tangan anak laki-lakinya (mungkin belasan atau 20 tahunan usianya) berusaha menyeberangi jalan. Pada saat itu lampu sedang menyala merah, dan lalu lintas begitu padatnya, sehingga mereka cukup lama berdiri terpaku menunggu kendaraan sepi di jalan sebelah kanan saya.
Karena tepat berada di depan mata, maka tidak hanya mata yang melihat, tapi hatipun ikut berbicara, menebak-nebak.. apa gerangan yang mereka hendak lakukan menjelang maghrib di jalan raya. sepintas terlihat wajah mereka bersih, seperti orang yang jarang keluar rumah sehingga tampak kumal, baju yang mereka kenakan pun terlihat bersih, meskipun menggunakan celana pendek di bawah lutut dan sepasang sendal jepit melindungi telapak kaki mereka dari hangatnya aspal disore hari. Sang anak membawa karung.. terlihat agak kotor, dan sang ibu masih berpegangan pada anaknya yang lebih besar, sampai jalan terlihat agak kosong, merekapun menyeberangi jalan di kanan saya. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika baru beberapa meter mereka berjalan, sang Ibu berjalan semakin ke pinggir dan terlihat memungut sesuatu dan sang anak tampak malu-malu membuka karung yang dibawanya, sang Ibu pun memasukkan gelas plastik yang kosong itu, ya.. itu adalah gelas aqua kosong yang biasa diambil oleh pemulung. Pemandangan itu memusnahkan semua pemikiran dalam hati, yang sebelumnya menyangka kalau mereka baru saja pulang dari rumah kerabat, atau ada keperluan yang penting sehingga harus keluar menjelang maghrib dijalan yang sibuk.
Yaa Allah.... mudahkanlah urusan Ibu dan anaknya itu, mudahkanlah rizqi bagi mereka.
Karena tepat berada di depan mata, maka tidak hanya mata yang melihat, tapi hatipun ikut berbicara, menebak-nebak.. apa gerangan yang mereka hendak lakukan menjelang maghrib di jalan raya. sepintas terlihat wajah mereka bersih, seperti orang yang jarang keluar rumah sehingga tampak kumal, baju yang mereka kenakan pun terlihat bersih, meskipun menggunakan celana pendek di bawah lutut dan sepasang sendal jepit melindungi telapak kaki mereka dari hangatnya aspal disore hari. Sang anak membawa karung.. terlihat agak kotor, dan sang ibu masih berpegangan pada anaknya yang lebih besar, sampai jalan terlihat agak kosong, merekapun menyeberangi jalan di kanan saya. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika baru beberapa meter mereka berjalan, sang Ibu berjalan semakin ke pinggir dan terlihat memungut sesuatu dan sang anak tampak malu-malu membuka karung yang dibawanya, sang Ibu pun memasukkan gelas plastik yang kosong itu, ya.. itu adalah gelas aqua kosong yang biasa diambil oleh pemulung. Pemandangan itu memusnahkan semua pemikiran dalam hati, yang sebelumnya menyangka kalau mereka baru saja pulang dari rumah kerabat, atau ada keperluan yang penting sehingga harus keluar menjelang maghrib dijalan yang sibuk.
Yaa Allah.... mudahkanlah urusan Ibu dan anaknya itu, mudahkanlah rizqi bagi mereka.
No comments:
Post a Comment