Lagi-lagi saya diperlihatkan kepada situasi dimana pelayanan umum yang sangat berbeda ketika terbiasa mendapatkan fasilitas kelas 1.
Malam itu saya berangkat ke PMI Kramat Raya untuk mengambil 'sisa' darah dari jumlah yang semestinya kami dapatkan untuk operasi mertua. Betapa terkejutnya, ternyata sudah ratusan orang (mungkin sampai lebih dari seribu), yang berjubel ingin mendonorkan darah mereka untuk teman, keluarga, atau donor sukarela. Kemudian diloket pengambilan darah pun tak kalah banyaknya, meskpun tak seramai di loket pendonoran darah. Sampai jam 11 malam kami tak mendapatkan darah 250cc jatah kami. Pendonor pun gagal menyumbangkan darahnya, karena kondisi tubuh yang tidak fit ditambah usia ditambah lagi antrian yang penuh sesak. Bahkan ada satu wanita paruh baya mengeluh, 'saya dari jam 4 sore belum dipanggil untuk melakukan donor', pada saat itu jam menunjukkan 22.45. Mana mungkin saya mendapatkan giliran dengan cepat, sedangkan yang lain saja belum dipanggil dari jam 16.00.
Seingat saya ketika di RS Swasta tidak pernah memikirkan urusan darah, operasi yang membutuhkan darah banyak atau sedikit tidak pernah ada perintah dari RS kepada keluarga untuk menyediakan atau mengambil darah langsung ke PMI.
Sekali lagi hal ini mengingatkan saya agar senantiasa melihat kebawah, dan tetap tawadhu, bahwa ternyata banyak orang yang memiliki masalah lebih berat dari apa yang pernah kita rasakan.
Thursday, January 08, 2009
Tuesday, January 06, 2009
KEsabaran tiada ujung
Judulnya seperti itu, tapi mungkin bagi banyak orang mengantri untuk mendapatkan pelayanan pengobatan tidaklah penting. Sedangkan bagi lebih banyak lagi orang lainnya, mengantri, berdesakkan merupakan hal yang sangat penting, demi tercapainya tujuan pengobatan dan pelayanan kesehatan bagi dirinya dan keluarganya.
Berkali-kali saya bersentuhan dengan urusan administrasi rumah sakit swasta, dengan pelayanan kelas 1 dan senyum ramah para perawatnya. Kita dibuat nyaman dengan kondisi fisik yang sedang menurun, agar dalam masa perawatan kita merasa tenang. Namun semua itu berubah 180 derajat, atau 100 derajat saja lah agar tidak terlalu ekstrim, ketika mengantarkan mertua dengan layanan askes (pensiunan pns). Betapa urusan administrasi yang 'agak rumit' dan berliku. Belum lagi ketika kita harus mendatangi ruangan demi ruangan untuk periksa ini itu, belum lagi kembali mengantri untuk mendapatkan stempel persetujuan dari perwakilan askes. Tidak ada pelayanan istimewa, semua dilakukan mandiri. Tidak ada perawat yang tersenyum ramah ketika kita sedang lelah mengantri untuk melakukan pembayaran.
Tapi semua itu terbayar dengan selesainya urusan administrasi dan biaya yang sangat ringan.
Berkali-kali saya bersentuhan dengan urusan administrasi rumah sakit swasta, dengan pelayanan kelas 1 dan senyum ramah para perawatnya. Kita dibuat nyaman dengan kondisi fisik yang sedang menurun, agar dalam masa perawatan kita merasa tenang. Namun semua itu berubah 180 derajat, atau 100 derajat saja lah agar tidak terlalu ekstrim, ketika mengantarkan mertua dengan layanan askes (pensiunan pns). Betapa urusan administrasi yang 'agak rumit' dan berliku. Belum lagi ketika kita harus mendatangi ruangan demi ruangan untuk periksa ini itu, belum lagi kembali mengantri untuk mendapatkan stempel persetujuan dari perwakilan askes. Tidak ada pelayanan istimewa, semua dilakukan mandiri. Tidak ada perawat yang tersenyum ramah ketika kita sedang lelah mengantri untuk melakukan pembayaran.
Tapi semua itu terbayar dengan selesainya urusan administrasi dan biaya yang sangat ringan.
Subscribe to:
Posts (Atom)